matius 7 ayat 6

* Matius 7:6
LAI TB, Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.
KJV, Give not that which is holy unto the dogs, neither cast ye your pearls before swine, lest they trample them under their feet, and turn again and rend you.
TR, μη δωτε το αγιον τοις κυσιν μηδε βαλητε τους μαργαριτας υμων εμπροσθεν των χοιρων μηποτε καταπατησωσιν αυτους εν τοις ποσιν αυτων και στραφεντες ρηξωσιν υμας
Translit, mê {jangan} dôte {memberikan} to hagion {barang kudus} tois kusin {kepada anjing-anjing} mêde {juga jangan} balête {melemparkan} tous margaritas {mutiara-mutiara} humôn {mu} emprosthen {di depan} tôn khoirôn {babi-babi} mêpote {supaya jangan} katapatêsôsin {mereka menginjak-injak} autous {mereka} en {dengan} tois posin {kaki-kaki} autôn {mereka} kai {dan} straphentes {berbalik} rêxôsin {mengoyak} humas {kamu}

Susunan kalimat perkataan ini nampaknya silang. Babi akan menginjak-injak mutiara itu dengan kakinya dan anjing yang akan berbalik dan menggigit tangan yang memberinya makan, sekalipun diberikan daging ‘kudus’

Pengertian umum tentang perkataan ini jelas, yaitu : nilai suatu barang, kesempatan khusus, partisipasi dalam hal-hal sakral jangan ditawarkan kepada mereka yang tidak mampu menghargainya.

Mutiara adalah sesuatu yang indah dan berharga bagi banyak orang – Yesus sendiri dalam salah satu perumpamaan membandingkan Kerajaan Allah dengan sebuah mutiara yang sangat berharga :

* Matius 13:45-46
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Tetapi babi-babi tidak akan mengerti nilai dari mutiara, dan seekor anjing tidak mengerti “daging kudus” (dari hewan yang dikorbankan) yang mempunyai nilai religi yang melampaui nilai makanan dari jemaat yang mempersembahkan “korban-perdamaian”.

Seekor anjing tak dapat membedakan antara makanan (sajian) yang dipersembahkan sebagai korban (di Bait Allah), dengan makanan yang mereka perebutkan di jalanan. Mereka tidak merasa harus berterima kasih jika diberikan “daging kudus” lebih dari jika diberikan daging biasa.

“Barang kudus” dan “mutiara” dalam ayat ini merupakan gambaran untuk “Injil Kudus”. Orang Yahudi biasanya memperbandingkan kata-kata yang berhikmat dengan mutiara, dan hikmat yang tertinggi benar ada dalam Injil Kristus. Tetapi siapa yang dimaksudkan sebagai anjing dan babi?

Memang, orang Yahudi mempergunakan sebutan “anjing atau babi” itu untuk bangsa-bangsa kafir (non-Yahudi). Tetapi tentu saja apa yang dimaksud dalam Matius ini bermaksud bahwa Injil harus diberitakan kepada semua orang termasuk bangsa-bangsa kafir (Matius 28:19). Jadi, disini arti “anjing atau babi” yang dimaksud adalah orang yang sama sekali tidak mau mengerti Injil Kristus serta memusuhi Injil itu dengan keras dan mengejek Injil itu.

Kadang-kadang orang Kristen yang bertemu dengan orang semacam itu pada akhirnya harus berhenti berbicara tentang Injil, supaya Injil tentang Kristus jangan semakin diejek. Murid-murid Kristus harus juga berpikir secara arif dan jangan selalu mengira bahwa mengabarkan Injil secara rajin akan selalu diterima dengan hati yang terbuka oleh setiap orang. Kadang-kadang ada penolakan bahkan perlawanan, dalam menghadapi kemacetan seperti ini maka ada satu jalan yang tinggal, yaitu mendoakan orang yang keras-hati ini, supaya Roh Kudus bekerja dalam hati mereka supaya Tuhan mendatangkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan mereka yang mungkin membukakan hati mereka.

Amin

Renungan kedua

Apa coba hubungan antara barang yang kudus, anjing, mutiara, dan babi? Yang rajin membaca Alkitab pasti bisa menebak ayatnya. Yup … di Matius 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memisahkan ayat ini dengan perikop sebelumnya yang berbicara tentang menghakimi dan perikop sesudahnya yang berbicara tentang hal pengabulan doa. Hal ini membuat seakan-akan ayat ini berdiri sendiri, dan biasanya ditafsirkan terpisah. Dua hari yang lalu saya membaca ayat ini dalam versia the Message yang ditulis demikian, “Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” Indah ya, farafrase dari the Message, tetapi yang membuat saya merenungkan ayat ini, karena rupanya the Message dan kebanyakan versi Alkitab lainnya memasukkan ayat ini dalam satu perikop tentang menghakimi.
Saya jelaskan dulu bagaimana ayat ini biasanya diajarkan – saya tidak boleh dan tidak bisa menyalahkannya – termasuk dulu saya mengkhotbahkannya. Barang yang kudus dan permata menggambarkan kebenaran Injil Kristus, sementara anjing dan babi adalah orang-orang yang terus-menerus menantang, menjelek-jelekkan, dan menginjak-injak Injil.
Masalah saya dengan penafsiran seperti ini adalah – yang baru saja saya temukan.
1. Seakan-akan ada satu titik di mana kita harus berhenti mengabarkan Injil kepada orang-orang yang digambarkan seperti anjing dan babi itu. Saya tidak setuju dengan hal ini, karena menurut saya mustinya tidak ada kata menyerah untuk memberitakan kebenaran Injil.
2. Seakan-akan ada hak bagi kita untuk kemudian “menghakimi” orang lain, dan memutuskan bahwa mereka termasuk golongan anjing dan babi. Padahal di ayat-ayat sebelumnya, Tuhan Yesus menegaskan bagaimana kita harus berhati-hati dalam hal menghakimi.
3. Setahu saya Alkitab selalu menunjukkan korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Baik dengan ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya. Jika ayat 6 dipisahkan dari ayat 1-5, maka menurut saya rasanya akan aneh karena satu ayat berdiri sendiri. Apalagi ayat ini masuk dalam khotbah di Bukit, yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.
Maka, saya memberanikan diri untuk mencari tahu dan merenungkan ayat ini, dan ini sedikit tafsiran bebas saya tentang Matius 7:6.
Yang perlu diketahui adalah bagi orang Yahudi, anjing dan babi termasuk dalam kategori binatang najis. Pada masa itu anjing hidup secara liar, tidak ada yang menjadikan anjing sebagai binatang peliharaan. Sementara, kalau ada babi yang diternakkan – dianggap setengah liar – itupun karena ada alasan perdagangan dengan bangsa lain.
Yang dimaksud barang kudus (=hagios) mengacu kepada daging kurban, yaitu daging hewan yang dikurbankan di mezbah Bait Suci. Bayangkan ini, apa yang terjadi jika kita memberikan daging kepada anjing? Apakah anjing-anjing itu akan menolaknya? Jelas tidak, mereka akan sangat senang dan langsung menyantapnya.
Rupanya mutiara itu mirip dengan kacang-kacangan atau jagung yang sering menjadi makanan babi di Timur Tengah. Ketika ada mutiara dilemparkan, babi-babi ini akan segera menganggapnya sebagai makanan dan berebut ke arahnya. Ingat, sudah saya sebutkan bahwa babi itu setengah liar, begitu tahu bahwa itu bukan makanan, maka mereka akan mengejar yang melemparkan mutiara itu.
Rasul Petrus mengingatkan kita karakter dua binatang ini dalam 2 Petrus 2:22, “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” Dua binatang ini menunjukkan karakter yang tidak bisa membedakan mana yang kudus dan mana yang najis. Lalu apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Matius 7:6 ini?
Sekali lagi, ini adalah tafsiran bebas dan pendapat pribadi saya. Lihat sebentar Matius 7:3-5! Menurut saya, yang disamakan dengan anjing dan babi itu adalah apa yang disebut oleh ayat 5 sebagai “orang munafik”. Ayat 6 menjelaskan seperti apa sebenarnya orang munafik itu. Mereka adalah orang-orang yang menerima bahkan gemar terhadap pemberitaan Injil, seperti anjing yang gemar daging kurban, dan babi yang segera mengejar permata karena dikira makanan. Meskipun gemar Injil, mereka adalah orang-orang yang “kembali ke muntahnya, dan mandi kembali lagi ke kubangannya”. Berapa kalipun mendengar kebenaran Firman, hidup mereka tetap bergelimang dengan dosa dan nafsu duniawi yang penuh kejijikan. Uniknya, orang-orang munafik ini menganggap diri mereka sudah kudus, dan menghakimi kehidupan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 3-5.
Nah, saya meninggalkan PR untuk Anda, silakan baca 2 Petrus 2:22 dan Filipi 3:2, serta ayat-ayat di atas dan di bawahnya. Perhatikan siapa dan orang macam apa yang ditujuk oleh rasul Petrus dan rasul Paulus, berkenaan dengan anjing dan babi. Kalau Anda tidak setuju dengan tulisan dan tafsiran saya di atas, mungkin Anda bisa setuju dengan rasul Petrus dan rasul Paulus.
“Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” (Matthew 7:6 – The Message)

Iklan

About eckyreyani

yang ku lakukan hanya untuk menyenangkan Mu

Posted on 28 April 2014, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: