matius 7 ayat 6

* Matius 7:6
LAI TB, Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.
KJV, Give not that which is holy unto the dogs, neither cast ye your pearls before swine, lest they trample them under their feet, and turn again and rend you.
TR, μη δωτε το αγιον τοις κυσιν μηδε βαλητε τους μαργαριτας υμων εμπροσθεν των χοιρων μηποτε καταπατησωσιν αυτους εν τοις ποσιν αυτων και στραφεντες ρηξωσιν υμας
Translit, mê {jangan} dôte {memberikan} to hagion {barang kudus} tois kusin {kepada anjing-anjing} mêde {juga jangan} balête {melemparkan} tous margaritas {mutiara-mutiara} humôn {mu} emprosthen {di depan} tôn khoirôn {babi-babi} mêpote {supaya jangan} katapatêsôsin {mereka menginjak-injak} autous {mereka} en {dengan} tois posin {kaki-kaki} autôn {mereka} kai {dan} straphentes {berbalik} rêxôsin {mengoyak} humas {kamu}

Susunan kalimat perkataan ini nampaknya silang. Babi akan menginjak-injak mutiara itu dengan kakinya dan anjing yang akan berbalik dan menggigit tangan yang memberinya makan, sekalipun diberikan daging ‘kudus’

Pengertian umum tentang perkataan ini jelas, yaitu : nilai suatu barang, kesempatan khusus, partisipasi dalam hal-hal sakral jangan ditawarkan kepada mereka yang tidak mampu menghargainya.

Mutiara adalah sesuatu yang indah dan berharga bagi banyak orang – Yesus sendiri dalam salah satu perumpamaan membandingkan Kerajaan Allah dengan sebuah mutiara yang sangat berharga :

* Matius 13:45-46
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Tetapi babi-babi tidak akan mengerti nilai dari mutiara, dan seekor anjing tidak mengerti “daging kudus” (dari hewan yang dikorbankan) yang mempunyai nilai religi yang melampaui nilai makanan dari jemaat yang mempersembahkan “korban-perdamaian”.

Seekor anjing tak dapat membedakan antara makanan (sajian) yang dipersembahkan sebagai korban (di Bait Allah), dengan makanan yang mereka perebutkan di jalanan. Mereka tidak merasa harus berterima kasih jika diberikan “daging kudus” lebih dari jika diberikan daging biasa.

“Barang kudus” dan “mutiara” dalam ayat ini merupakan gambaran untuk “Injil Kudus”. Orang Yahudi biasanya memperbandingkan kata-kata yang berhikmat dengan mutiara, dan hikmat yang tertinggi benar ada dalam Injil Kristus. Tetapi siapa yang dimaksudkan sebagai anjing dan babi?

Memang, orang Yahudi mempergunakan sebutan “anjing atau babi” itu untuk bangsa-bangsa kafir (non-Yahudi). Tetapi tentu saja apa yang dimaksud dalam Matius ini bermaksud bahwa Injil harus diberitakan kepada semua orang termasuk bangsa-bangsa kafir (Matius 28:19). Jadi, disini arti “anjing atau babi” yang dimaksud adalah orang yang sama sekali tidak mau mengerti Injil Kristus serta memusuhi Injil itu dengan keras dan mengejek Injil itu.

Kadang-kadang orang Kristen yang bertemu dengan orang semacam itu pada akhirnya harus berhenti berbicara tentang Injil, supaya Injil tentang Kristus jangan semakin diejek. Murid-murid Kristus harus juga berpikir secara arif dan jangan selalu mengira bahwa mengabarkan Injil secara rajin akan selalu diterima dengan hati yang terbuka oleh setiap orang. Kadang-kadang ada penolakan bahkan perlawanan, dalam menghadapi kemacetan seperti ini maka ada satu jalan yang tinggal, yaitu mendoakan orang yang keras-hati ini, supaya Roh Kudus bekerja dalam hati mereka supaya Tuhan mendatangkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan mereka yang mungkin membukakan hati mereka.

Amin

Renungan kedua

Apa coba hubungan antara barang yang kudus, anjing, mutiara, dan babi? Yang rajin membaca Alkitab pasti bisa menebak ayatnya. Yup … di Matius 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memisahkan ayat ini dengan perikop sebelumnya yang berbicara tentang menghakimi dan perikop sesudahnya yang berbicara tentang hal pengabulan doa. Hal ini membuat seakan-akan ayat ini berdiri sendiri, dan biasanya ditafsirkan terpisah. Dua hari yang lalu saya membaca ayat ini dalam versia the Message yang ditulis demikian, “Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” Indah ya, farafrase dari the Message, tetapi yang membuat saya merenungkan ayat ini, karena rupanya the Message dan kebanyakan versi Alkitab lainnya memasukkan ayat ini dalam satu perikop tentang menghakimi.
Saya jelaskan dulu bagaimana ayat ini biasanya diajarkan – saya tidak boleh dan tidak bisa menyalahkannya – termasuk dulu saya mengkhotbahkannya. Barang yang kudus dan permata menggambarkan kebenaran Injil Kristus, sementara anjing dan babi adalah orang-orang yang terus-menerus menantang, menjelek-jelekkan, dan menginjak-injak Injil.
Masalah saya dengan penafsiran seperti ini adalah – yang baru saja saya temukan.
1. Seakan-akan ada satu titik di mana kita harus berhenti mengabarkan Injil kepada orang-orang yang digambarkan seperti anjing dan babi itu. Saya tidak setuju dengan hal ini, karena menurut saya mustinya tidak ada kata menyerah untuk memberitakan kebenaran Injil.
2. Seakan-akan ada hak bagi kita untuk kemudian “menghakimi” orang lain, dan memutuskan bahwa mereka termasuk golongan anjing dan babi. Padahal di ayat-ayat sebelumnya, Tuhan Yesus menegaskan bagaimana kita harus berhati-hati dalam hal menghakimi.
3. Setahu saya Alkitab selalu menunjukkan korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Baik dengan ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya. Jika ayat 6 dipisahkan dari ayat 1-5, maka menurut saya rasanya akan aneh karena satu ayat berdiri sendiri. Apalagi ayat ini masuk dalam khotbah di Bukit, yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.
Maka, saya memberanikan diri untuk mencari tahu dan merenungkan ayat ini, dan ini sedikit tafsiran bebas saya tentang Matius 7:6.
Yang perlu diketahui adalah bagi orang Yahudi, anjing dan babi termasuk dalam kategori binatang najis. Pada masa itu anjing hidup secara liar, tidak ada yang menjadikan anjing sebagai binatang peliharaan. Sementara, kalau ada babi yang diternakkan – dianggap setengah liar – itupun karena ada alasan perdagangan dengan bangsa lain.
Yang dimaksud barang kudus (=hagios) mengacu kepada daging kurban, yaitu daging hewan yang dikurbankan di mezbah Bait Suci. Bayangkan ini, apa yang terjadi jika kita memberikan daging kepada anjing? Apakah anjing-anjing itu akan menolaknya? Jelas tidak, mereka akan sangat senang dan langsung menyantapnya.
Rupanya mutiara itu mirip dengan kacang-kacangan atau jagung yang sering menjadi makanan babi di Timur Tengah. Ketika ada mutiara dilemparkan, babi-babi ini akan segera menganggapnya sebagai makanan dan berebut ke arahnya. Ingat, sudah saya sebutkan bahwa babi itu setengah liar, begitu tahu bahwa itu bukan makanan, maka mereka akan mengejar yang melemparkan mutiara itu.
Rasul Petrus mengingatkan kita karakter dua binatang ini dalam 2 Petrus 2:22, “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” Dua binatang ini menunjukkan karakter yang tidak bisa membedakan mana yang kudus dan mana yang najis. Lalu apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Matius 7:6 ini?
Sekali lagi, ini adalah tafsiran bebas dan pendapat pribadi saya. Lihat sebentar Matius 7:3-5! Menurut saya, yang disamakan dengan anjing dan babi itu adalah apa yang disebut oleh ayat 5 sebagai “orang munafik”. Ayat 6 menjelaskan seperti apa sebenarnya orang munafik itu. Mereka adalah orang-orang yang menerima bahkan gemar terhadap pemberitaan Injil, seperti anjing yang gemar daging kurban, dan babi yang segera mengejar permata karena dikira makanan. Meskipun gemar Injil, mereka adalah orang-orang yang “kembali ke muntahnya, dan mandi kembali lagi ke kubangannya”. Berapa kalipun mendengar kebenaran Firman, hidup mereka tetap bergelimang dengan dosa dan nafsu duniawi yang penuh kejijikan. Uniknya, orang-orang munafik ini menganggap diri mereka sudah kudus, dan menghakimi kehidupan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 3-5.
Nah, saya meninggalkan PR untuk Anda, silakan baca 2 Petrus 2:22 dan Filipi 3:2, serta ayat-ayat di atas dan di bawahnya. Perhatikan siapa dan orang macam apa yang ditujuk oleh rasul Petrus dan rasul Paulus, berkenaan dengan anjing dan babi. Kalau Anda tidak setuju dengan tulisan dan tafsiran saya di atas, mungkin Anda bisa setuju dengan rasul Petrus dan rasul Paulus.
“Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” (Matthew 7:6 – The Message)

Iklan

kebangkitan kita

Senin, 07 April 2014

 

“Saat Teduh”

I KORINTUS 15 : 12 – 34

“Kebangkitan Kita”

 

Ayat yang berkesan bagi saya adalah ayat 33 dan 34 :

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.

 

Ungkapan Hati ku:

“Terima kasih Tuhan atas Firman dan Teguran MU. Telah menyadarkan Hamba untuk kembali ke jalan yang benar. Hidup saya terasa hampa, gersang tak ada tanda kehidupan. Hamba mohon ampun . hamba selalu mempermainkan Hati MU ya Tuhan. Kuatkanlah Hamba, karena Hamba tak mampu tanpa Engkau Ya Tuhan. Ajarlah Hamba agar tak menjadi orang yang gagal, biarkanlah hamba bisa menunjukkan KasihMu Tuhan lewat hidup hamba ini. Thank’s God.”

 

Renungan:

Saling percaya adalah sikap yang paling dibutuhkan dalam hidup bersama, komunitas, keluarga, sahabat, pacar dan lain sebagainya. Dalam suatu hubungan apabila tidak ada lagi kepercayaan maka hancurlah masa depan dari hubungan itu. Percaya artinya bisa menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita. Percaya artinya tidak ada sungut – sungut. Orang yang hidup bersama dengan orang yang suka memukul orang, ia pun sedang menanamkan sikap untuk memukul orang. Orang yang hidup dengan orang suka merokok ia pun akan merokok pula. Orang yang suka berjudi perlahan akan mengajarkan sikap itu terhadap anak –anaknya, adik – adiknya dan orang yang bergaul dengannya. Bagaimana caranya orang percaya bisa mnempatkan diri pada posisinya??? Orang percaya harus tahu menempatkan diri dalam pergaulan, jangan sampai tersesat. Caranya dengan mempertahankan kelakuannya bersih (mazmur 119:9-11) “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

 

Sadarlah dan kembalilah kepada jalan kebenaran. Tuhan Yesus Memberkati.

 

Deckyreyani_3q2y_

 

 

KASIH

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
1 kOR 13:1-10.

Selamat Hari Minggu sahabat2 yang dikasihi Tuhan.

Sukai juga Halaman >> Yang Dikasihi Allah
Tuhan Yesus memberkati Anda selalu.
facebook.com/sahabatdoa

IKUTLAH AKU

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk dirumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku”. Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”
Matius 9:9

Pemilihan dan panggilan Yesus terhadap Matius, seorang pemungut cukai, merupakan sebuah peristiwa yang mengherankan orang Farisi, Ahli Taurat dan khalayak ramai. Mungkin sekali kita juga akan merasa heran, mengapa yesus memilih seorang pemungut cukai menjadi murid-Nya?

Jika pemungut cukai disejajarkan dengan koruptor seperti yang akhir-akhir ini begitu ramai diberitakan masmedia kita sehubungan dengan proses pengadilan yang sedang berlangsung di ruang pengadilan. Rasa heran mungkin sekali terungkap melalui pertanyaan, “Mengapa Yesus memilih sang koruptor untuk menjadi murid-Nya?”

Dimata orang Yahudi, pemungut cukai tergolong oprang yang sangat dibenci masyarakat, karena kagiatan mereka yang mirip dengan kebiasaan lintah, mengisap darah sesamanya, sebagai penghianat, pelaku persekongkolan dengan penjajah Roma.

Lalu melihat kenyataan bahwa Yesus memakai mereka sebagai murid-Nya, maka timbil pertanyaan:, Apakah tindakan ini dapat dikatakan sebagai tindakan yang bijaksana? Yesus ternyata mengasihi manusia berdosa, mengasihi koruptor, mengasihi Matius, meskipun Matius pengisap darah, penghianat yang tergolong sampah masyarakat Yahudi.

Panggilan terhadap Matius merupakan kesempatan dalam membuka lembaran hidup yang baru. Yesus menyatakan kepada-Nya: “Ikutlah Aku”! Sebuah panggilan yang menuntut kesediaan secara menyeluruh untuk menaati kehendak-Nya. panggilan yang menuntut kesetiaan ini berlaku sejak Matius merespon dan mengikut Yesus. Keputusan mengikut Yesus meripakan janji untuk bersedia melepas kebiasaaan lama dan menyatakan kesetiaannya sampai akhir hidup.

Panggilan ini sesungguhnya sama dengan panggilan seseorang pengemban tugas yang diamanatkan rakyat kepada seorang pemimpin. menerima tugas dan melakukannya sesuai ketentuan yang telah digariskan tidak diperkenankan melakukan penyimpangan apalagi penyelewengan tugas.

Ikutlah AKu! Sebuah panggilan yang mengajak Matius untuk mau berjalan kearah mana Yesus bergerak dan melangkah. Bukan bergerak dan melangkah kearah kehendak atau kesenangan pribadinya. Inilah yang harus di ikuti Matius dan ini pula yang menjadi harapan rakyat Yahudi, sama seperti harapan rakyat Indonesia terhadap para pemimpin dari setiap arus kepemimpinan. Dalam memulai lembaran hidup baru, Matius sebagai pemungut cukai menyatakan pertobatannya. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa sebagai penipu masuarakat, ia juga telah tertipu. Dikatakan tertipu karena keberhasilan si penipu dengan bujuk rayunya yang aduhai, sehingga ia mengambil keputusan melakukan tindakan korupsi.

Ikutlah Aku! Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Keputusan yang diambil Matius untuk mengikut Yesus adalah sebuah kemenangan. Dikatakan kemenangan karena Matius mau meninggalkan dan menolak keputusan yang selama ini merupakan keputusan yang salah bahkan menyesatkan. Ini pula yang menimbulkan perasaan lega baginya, membuat tidurnya menjadi nyenyak, membuat ia terbebas dari kejaran dan incaran para penegak hukum, khususnya KPK ala Yahudi.

Keputusan untuk mengikut Yesus merupakan bukti bahwa Matius si pemungut cukai dipakai Yesus menjadi murid-Nya. Sebagai murid, ia mempunyai hak untuk duduk bahkan makan bersama dengan gurunya. Suatu kesempatan yang luar biasa, sebab selama ini ia hanya dapat bergaul akrab dan bercengkerama dengan orang-orang yang mempunyai ambisi dan kehendak yang sama dengannya. pergaulan akrab antara Yesus dan Matius setelah ia menjadi pengikut Yesus, melalui duduk dan makan bersama, jelas akan menimbulkan persoalan baru.

Ketika itu, Yesus akan ditetapkan sebagai pribadi yang masuk golongan penjahat dan orang berdosa. Tetapi satu hal yang harus dicatat, sekali pun Yesus makan bersama orang jahat, bukan berarti ia menjadi orang jahat, melainkan bertujuan hendak menyelamatkan mereka sehingga terbebas dari kejahatan yang selama ini dilakukan. Tindakan Yesus makan bersama dengan pemungut cukai jelasnya mendapat kecaman dari pihak Farisi.

Sekali pun Matius telah berhak duduk dan makan bersama dengan gurunya, menghilangkan borok lama, ternyata bukanlah hal yang mudah. Tindakan sang guru menemani murid yang baru saja membuka lembaran hidup baru ternyata berbias.

Didalam Matius 11:19 diakatan:
“Lihatlah, ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”

Yesus bergaul dengan pelahap, pemabuk dan orang-orang berdosa, buka karena Ia menyetujui bahkan melakukan kejahatan itu, melainkan karena Ia mengasihi mereka. Yesus membenci kejahatan dan mengasihi serta berusaha membebaskan mereka.

Berbeda dengan gaya dan cara berpikir orang Farisi sebagai tokoh yang dikenal di masyarakat, selalu menganggap diri benar. Bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa?

Kaitannya dengan dosa, Agustinus, tokoh bapa gereja pernah berkata: Non Pose Non Picare, yang artinya tidak mungkin tidak berdosa. ungkapan ini jelas hendak menyatakan bahwa sesungguhnya setiap orang itu tidak terlepas dari dosa, termasuk orang Farisi, Ahli Taurat dan Pemimpin Agama. Semua orang berdosa (Roma 3:23). Jika pernyataan ini disepakati, maka seharusnya setiap orang membutuhkan Yesus sebagai penebus. Bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa orang sehat tidak memerlukan tabib, tetapi hanya orang sakit?

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan untuk orang-orang berdosa. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Yesus telah menjungkirbalikkan kebiasaan orang Farisi itu. Yesdus memanggil orang berdosa dan bukan orang benar. Seperti halnya orang Farisi dan Ahli Taurat, mereka memang tergolong orang yang setia, tetapi kesetiaan mereka hanya dinyatakan dalam ucapan keagamaan.

Matius dipanggil bukan karena kesempurnaannya, bukan pula karena kebenarannya, kesetiaan atau kebaikannya. Yesus memanggil dia didorong oleh kasih-Nya. Kasih yang memerdekakan Matius. Kasih yang mendorong dirinya untuk bergerak melangkah memberitakan berita keselamatan.

Berita keselamatan ini hendaknya juga dapat kita beritakan kepada orang lain. Tetapi yang menjadi pertanyaan, Sudahkah Anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus?
Sudahkah Anda berhenti melakukan praktek-praktek sebagaimana yang dilakukan lintah pengisah darah sesama?

We Love Jesus and you. God bless you all.

-By.HM.Siboro-
facebook/sahabatdoa

“HUTAN DAN POHON”

Kita semua pernah begitu dekat dengan pencobaan sehingga kita kehilangan perspektif yang benar. Pencobaan tersebut mungkin berupa hal kecil seperti rumor yang kita sadari tidak perlu disebarluaskan.
Akan tetapi rupanya dorongan untuk bergosip telah menghalangi kesadaran kita tentang kasih dan penilaian yang baik.
Adam dan Hawa menghadapi masalah yang sama. Mereka terlalu asyik dengan sebuah tanaman yang ada di Taman Firdaus sehingga mereka tidak dapat melihat hutan yang luas gara-gara pohon tersebut. Lihatlah apa dampaknya bagi mereka. Taman Eden telah diciptakan khusus untuk mereka. Di dalam taman itu, mereka tidak mengenal kejahatan, pencobaan, penyakit, dan kematian. Mereka menikmati persekutuan secara langsung dengan Sang Pencipta. Tetapi mereka membuang semua yang mereka miliki hanya untuk memakan buah pohon terlarang itu (Kejadian 3:17-24).
Kesalahan mereka masih mengganggu kita. Betapa seringnya kita kehilangan seluruh hutan kebaikan Allah hanya untuk sebuah pohon pencobaan? Masa pencobaan tampak begitu menekan, masalah tidak tertahankan, dan kita membenarkan pikiran yang terputar balik.
Amsal 3:5
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Pikirkanlah tentang semua yang ditinggalkan Adam dan Hawa di Taman Eden. Isilah pikiran kita dengan kebenaran firman Allah dan bersandarlah pada tuntunan serta kekuatan Roh Kudus dari waktu ke waktu. Dengan demikian kita akan mengalami sukacita karena berkat Allah yang kekal, dan bukannya sekadar kesenangan sesaat.
✽ TANGGAPAN KITA TERHADAP PENCOBAAN
DAPAT MEMBANGUN ATAU MERUNTUHKAN DIRI KITA ✽
Yakobus 1:12
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”
Shalom (שלום) dan selamat malam para sahabat,
We love JESUS and you, GOD bless you all…
By : ADS
facebook/sahabat doa

ingin pulang

“Ingin pulang”
Tetesan mata hati ku
Smakin merona seakan meronta – rontah
Ku ingin berlari menyongsong matahari
Tapi Kita terpisah oleh lautan
Coba hanya daratan kita pasti kan bertemu
Tapi ini tuk masa depan kita
Ku coba tuk bertahan untukmu
Untuk kita duhai harap ku…..
Harap mu, ingin mu tuk aku kembali sekarang
Tapi belum saatnya
Ingin ku bersama,,,
Tinggal seminggu lagi kita kan bersama…
Bhoanawa, Ende  sabtu, 14 Juli 2012

Eq2y”

maaf cintaku

Maaf Cintaku

 Dimanakah kan ku cari
Hiasan indah senyum mu
Tak kunjung ku temui
Dimanakah engkau berlabuh??
Maaf cinta ku, aku kangen..
Ku tak menyangka,
Secepat ini ingin berjumpa,
Sedetik saja pergi, hati ini hampa
Katakan sejujurnya ku kangen
Ada segudang cinta untukmu
Itu baru sedetik
Tak tahu sehari, mungkin selaksa serpihan cinta
Menanti mu …….

eQ2Y

buronan ST

buronan Sarjana Teknik

Tertatih ku berlari mengejar mu
Ribuan peluru terikat di kaki ku
Berharap menjadi sang juara
Menjadi yang terdepan
Number one,,,, anganku
Menjadi buronan ST, apalagi menjadi santapan Cinta
Akankah ku mendapat secarik kerja keras
Dan membawa pulng cinta???
Ku di tengah pertempuran
Tak punya harapan, jatuh tertiban tangga
Puing kehancuranku direnggut
Hanyalah bisa bernapas lega
Aku masih hidup..!!??
Aku pasti bisa…!!
eq2y

facebook

“Facebook”

Apa gunanya facebook…???
Berbagi Cerita…??
Ok…!!!!
Tapi…….
Ternyata,.,
Semuanya tak seindah yang kubayangkan..
Tak semanis yang kupikirkan
Tuhan…
Tolong aku
Kuatkan aku
Tuk bisa menerima kenyataan ini
Kenapa kata – kata itu keluar
Dari mulut orang yang aku banggakan
Orang – orang yang aku sayangi…??
Mereka begitu berarti bagiku
Namun, mengapa aku harus sakit hati
Karena mereka pula???
Mengapa Tuhan??
Tolong aku Bapa….
Nelma Sooai

sahabat

“Sahabat”

Persahabatan dibaratkan
ikatan tanpa batas
laut tak bertepi
dan…………..
samudera yang tak berujung
persahabatan adalah …
kesucian dan kesetiaan tanpa kepalsuan
sahabat adalah……
malaikat yang tak sebatas cahaya
ketulusan seorang sahabat tak ternilai harganya….
meski kadang…..
persahabatan menyusahkan
namun……..
cinta seorang sahabat akan ada
spanjang masa…
Nelma Sooai